a.
Definisi FGD
·
Focus
Group Discussion (FGD) merupakan bentuk penelitian kualitatif di mana sekelompok orang yang
bertanya tentang sikap mereka terhadap produk, layanan, konsep, iklan, ide,
atau kemasan. Pertanyaan diminta dalam grup pengaturan interaktif dimana
peserta bebas untuk berbicara dengan anggota kelompok lainnya. Dalam FGD
biasanya terdapat suatu topik yang dibahas dan didiskusikan bersama.:Anna rakino,
·
FGD
adalah suatu metode riset yang oleh Irwanto (1988:1) didefinisikan sebagai
“suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang
sangat spesifik melalui diskusi kelompok” (Irwanto, 1988:1). Dengan perkataan
lain FGD merupakan proses pengumpulan informasi bukan melalui wawancara, bukan
perorangan,dan bukan diskusi bebas tanpa topik spesifik. Metode FGD termasuk
metode kualitatif. Seperti metode kualitatif lainnya (direct observation,
indepth interview, dsb) FGD berupaya menjawab jenis-jenis pertanyaan how-and
why, bukan jenis-jenis pertanyaan what-and-how-many yang khas untuk
metode kuantitatif (survei, dsb). FGD dan metode kualitatif lainnya sebenarnya
lebih sesuai dibandingkan metode kuantitatif untuk suatu studi yang bertujuan “to
generate theories and explanations” (Morgan and Kruger, 1993;9):Anna rakino,
b.
Prinsip-Prinsip FGD
1.
FGD adalah kelompok diskusi bukan
wawancara atau obrolan. :Anna rakino,Ciri khas metode FGD yang tidak dimiliki oleh metode
riset kualitaif lainnya (wawancara mendalam atau observasi) adalah interaksi!
Hidup mati sebuah FGD terletak pada ciri ini. Tanpa interaksi sebuah FGD
berubah wujud menjadi kelompok wawancara terfokus (FGI-Focus Group Interview).
Hal ini terjadi apabila moderator cenderung selalu mengkonfirmasi setiap topik
satu per satu kepada seluruh peserta FGD. Semua peserta FGD secara bergilir
diminta responnya untuk setiap topik, sehingga tidak terjadi dinamika kelompok.
Komunikasi hanya berlangsung antara moderator dengan informan A, informan A ke
moderator, lalu moderator ke informan B, informan B ke moderator, dst. Yang
seharusnya terjadi adalah moderator lebih banyak “diam” dan peserta FGD lebih
banyak omong alias “cerewet”. Kondisi idealnya, Informan A merespon topik yang
dilemparkan moderator, disambar oleh informan B, disanggah oleh informan C,
diklarifikasi oleh informan A, didukung oleh informan D, disanggah oleh
informan E, dan akhirnya ditengahi oleh moderator kembali. Diskusi seperti itu
sangat interaktif, hidup, dinamis!
2.
FGD adalah group bukan individu. Prinsip
ini masih terkait dengan prinsip sebelumnya. Agar terjadi dinamika kelompok,
moderator harus memandang para peserta FGD sebagai suatu group, bukan orang per
orang. Selalu melemparkan topik ke “tengah” bukan melulu tembak langsung ke
peserta FGD.
3.
FGD adalah diskusi terfokus bukan diskusi
bebas. Prinsip ini melengkapi prinsip pertama di atas. Diingatkan bahwa jangan
hanya mengejar interaksi dan dinamika kelompok, kalau hanya mengejar hal
tersebut diskusi bisa berjalan ngawur. Selama diskusi berlangsung moderator
harus fokus pada tujuan diskusi, sehingga moderator akan selalu berusaha
mengembalikan diskusi ke “jalan yang benar”. Moderator memang dituntut untuk
mencairkan suasana (ice breaking) agar diskusi tidak berlangsung kaku,
namun kadang-kadang proses ice breaking ini kelamaan, moderator ikut
larut dalam “keceriaan” kelompok, ber ha-ha-hi-hi, dan baru tersadar ketika
masih banyak hal yang belum tergali, sementara para peserta sudah mulai
kehilangan “energi”.:Anna rakino,
c.
Jenis FGD
1. Two-way focus group (FGD
dua arah) - satu kelompok disaksikan kelompok lain dan membahas diamati
interaksi dan kesimpulan
2. Dual moderator focus group
(Dual moderator fokus grup) - moderator memastikan satu sesi berlangsung
lancar, sementara yang lain memastikan bahwa semua topik yang dibahas
3. Dueling moderator focus group
- dua moderator berada pada sisi yang berlawanan saat berdiskusi.
4. Respondent moderator focus
group - satu atau lebih dari responden diminta untuk bertindak sebagai
moderator sementara
5. Client participant focus
groups - satu atau lebih perwakilan klien berpartisipasi dalam diskusi,
baik tertutup ataupun terbuka
6. Mini focus groups -
kelompok yang terdiri dari empat atau lima anggota bukan 8 -12
7. Teleconference focus groups
–FGD yang menggunakan jaringan telepon
8. Online focus groups (FGD
online) – menggunakan internet
d.
Tujuan FGD
- memperoleh pemahaman tentang subjek yang diteliti;
- memberikan gambaran yang akurat dari pengalaman subjek realitas;
- mengevaluasi dan menganalisa kebutuhan;
- merumuskan intervensi;
- menguji ide-ide baru atau program;
- meningkatkan program yang ada;
- mendapatkan berbagai informasi tentang topik yang diberikan dalam rangka untuk mengembangkan kuesioner yang lebih terstruktur;
- menginformasikan kebijakan.
Dalam ilmu
sosial dan perencanaan perkotaan, FGD memungkinkan orang untuk belajar di alam
pengaturan yang lebih dari satu-ke-satu wawancara. Dalam kombinasi dengan
pengamatan peserta, FGD dapat digunakan untuk mendapatkan akses ke berbagai
kelompok sosial dan budaya, memilih situs untuk belajar, sampel dari situs
tersebut, dan meningkatkan masalah tak terduga untuk eksplorasi. FGD memiliki
ide yang mudah dimengerti dan hasil yang terpercaya. FGD yang rendah dalam
biaya, satu dapat memperoleh hasil yang relatif cepat, dan mereka dapat
meningkatkan ukuran sampel laporan dengan berbicara dengan beberapa orang
sekaligus. (Berdasarkan: Marshall and Rossman, Designing Qualitative Research ,
3rd Ed. London: Sage Publications, 1999, p. 115).:Anna rakino,
FGD
tradisional dapat memberikan informasi yang akurat, dan tidak terlalu mahal
dibanding daerah lain bentuk tradisional peneliti:Anna rakino,an pemasaran. Bisa menimbulkan
biaya yang signifikan jika sebuah produk untuk dipasarkan di seluruh negara,
akan sangat penting untuk mengumpulkan responden lokal dari berbagai negara
tentang produk baru yang mungkin berbeda-beda karena pertimbangan geografis.
Hal ini akan memerlukan cukup besar dalam pengeluaran biaya perjalanan dan
penginapan. Selain itu, lokasi FGD tradisional mungkin atau tidak mungkin
berada di tempat yang nyaman untuk klien tertentu, sehingga klien perwakilan
mungkin harus mendatangkan biaya perjalanan dan penginapan juga. Penggunaan FGD
terus berkembang seiring waktu dan menjadi semakin meluas.
e.
Kapan FGD Harus Digunakan?
FGD harus dipertimbangkan untuk
digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:
1.
Peneliti ingin memperoleh informasi
mendalam tentang tingkatan persepsi, sikap, dan pengalaman yang dimiliki
informan.
2.
Peneliti ingin memahami lebih lanjut
keragaman perspektif di antara kelompok atau kategori masyarakat.
3.
Peneliti membutuhkan informasi
tambahan berupa data kualitatif dari riset kuantitatif yang melibatkan
persoalan masyarakat yang kompleks dan berimplikasi luas.
4.
Peneliti ingin memperoleh kepuasan
dan nilai akurasi yang tinggi karena mendengar pendapat langsung dari subjek
risetnya.
f.
Kapan FGD Tidak Diperlukan?
FGD harus dipertimbangkan untuk tidak
digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:
1.
Peneliti ingin memperoleh konsensus
dari masyarakat/peserta
2.
Peneliti ingin mengajarkan sesuatu
kepada peserta
3.
Peneliti akan mengajukan pertanyaan
“sensitif” yang tidak akan bisa di-share dalam sebuah forum bersama
kecuali jika pertanyaan tersebut diajukan secara personal antara peneliti dan
informan.
4.
Peneliti tidak dapat meyak:Anna rakino,inkan atau
menjamin kerahasiaan diri informan yang berkategori “sensitif”.
5.
Metode lain dapat menghasilkan
kualitas informasi yang lebih baik
6.
Metode lain yang lebih ekonomis
dapat menghasilkan informasi yang sama.
Meskipun terlihat sederhana,
menyelenggarakan suatu FGD yang hanya berlangsung 1 -3 jam, memerlukan
persiapan, kemampuan, dan keahlian khusus. Ada prosedur dan standar tertentu
yang harus diikuti agar hasilnya benar dan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai.
g.
Mengapa FGD?
Irwanto (2006: 3- 6) mengemukakan
tiga alasan perlunya melakukan FGD, yaitu alasan filosofis, metodologis, dan
praktis.
1.
Alasan Filosofis
·
Pengetahuan yang diperoleh dalam
menggunakan sumber informasi dari berbagai latar belakang pengalaman tertentu
dalam sebuah proses diskusi, memberikan perspektif yang berbeda dibanding
pengetahuan yang diperoleh dari komunikasi searah antara peneliti dengan
responden.
·
Penelitian tidak selalu terpisah
dengan aksi. Diskusi sebagai proses pertemuan antarpribadi sudah merupakan
bentuk aksi .
2.
Alasan Metodologis
·
Adanya keyakinan bahwa masalah yang
diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei atau wawancara individu
karena pendapat kelompok dinilai sangat penting.
·
Untuk memperoleh data kualitatif
yang bermutu dalam waktu relatif singkat.
·
FGD dinilai paling tepat dalam menggali
permasalahan yang bersifat spesifik, khas, dan lokal. FGD yang melibatkan
masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan yang paling sesuai.
3.
Alasan Praktis
·
Penelitian yang bersifat aksi membutuhkan
perasaan memiliki dari objek yang diteliti- sehingga pada saat peneliti
memberikan rekomendasi dan aksi, dengan mudah objek penelitian bersedia
menerima rekomendasi tersebut. Partisipasi dalam FGD memberikan kesempatan bagi
tumbuhnya kedekatan dan perasaan memiliki.:Anna rakino,
h. Kegunaan FGD
Menurut
Koentjoro (2005: 7), kegunaan FGD di samping sebagai alat pengumpul data adalah
sebagai alat untuk meyakinkan pengumpul data (peneliti) sekaligus alat re-check
terhadap berbagai keterangan/informasi yang didapat melalui berbagai metode
penelitian yang digunakan atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, baik
keterangan yang sejenis maupun yang bertentangan.
Dari berbagai keterangan di atas,
dapat disimpulkan dalam kaitannya dengan penelitian, FGD berguna untuk:
a.
Memperoleh informasi yang banyak secara cepat;
b.
Mengidentifikasi dan menggali informasi mengenai
kepercayaan, sikap dan perilaku kelompok tertentu;
c.
Menghasilkan ide-ide untuk penelitian lebih mendalam;
dan
d.
Cross-check data dari sumber lain atau dengan
metode lain.
i.
Persiapan dan Desain Rancangan FGD
Sebagai sebuah metode penelitian,
pelaksanaan FGD memerlukan perencanaan matang dan tidak asal-asalan. Untuk
diperlukan beberapa persiapan sebagai berikut: 1) Membentuk Tim; 2) Memilih
Tempat dan Mengatur Tempat; 3) Menyiapkan Logistik; 4 Menentukan Jumlah
Peserta; dan 5) Rekruitmen Peserta.
1) Membentuk Tim
Tim FGD umumnya mencakup:
1.
Moderator,
yaitu fasilitator diskusi yang terlatih dan memahami masalah yang dibahas serta
tujuan penelitian yang hendak dicapai (ketrampilan substantif), serta
terampil mengelola diskusi (ketrampilan proses).
2.
Asisten Moderator/co-fasilitator,
yaitu orang yang intensif mengamati jalannya FGD, dan ia membantu moderator
mengenai: waktu, fokus diskusi (apakah tetap terarah atau keluar jalur), apakah
masih ada pertanyaan penelitian yang belum terjawab, apakah ada peserta FGD
yang terlalu pasif sehingga belum memperoleh kesempatan berpendapat.
3.
Pencatat Proses/Notulen,
yaitu orang bertugas mencatat inti permasalahan yang didiskusikan serta
dinamika kelompoknya. Umumnya dibantu dengan alat pencatatan berupa satu unit
komputer atau laptop yang lebih fleksibel.
4.
Penghubung Peserta,
yaitu orang yang mengenal (person, medan), menghubungi, dan memastikan
partisipasi peserta. Biasanya disebut mitra kerja lokal di daerah penelitian.
5.
Penyedia Logistik,
yaitu orang-orang yang membantu kelancaran FGD berkaitan dengan penyediaan
transportasi, kebutuhan rehat, konsumsi, akomodasi (jika diperlukan), insentif
(bisa uang atau barang/cinderamata), alat dokumentasi, dll.
6.
Dokumentasi,
yaitu orang yang mendokumentasikan kegiatan dan dokumen FGD: memotret, merekam
(audio/video), dan menjamin :Anna rakino,erjalannya alat-alat dokumentasi, terutama
perekam selama dan sesudah FGD berlangsung.
7.
Lain-lain
jika diperlukan (tentatif), misalnya petugas antar-jemput, konsumsi, bloker
(penjaga “keamanan” FGD, dari gangguan, misalnya anak kecil, preman, telepon
yang selalu berdering, teman yang dibawa peserta, atasan yang datang mengawasi,
dsb)
2) Memilih dan Mengatur Tempat
Pada
prinsipnya, FGD dapat dilakukan di mana saja, namun seyogianya tempat FGD yang
dipilih hendaknya merupakan tempat yang netral, nyaman, aman, tidak bising,
berventilasi cukup, dan bebas dari gangguan yang diperkirakan bisa muncul
(preman, pen:Anna rakino,gamen, anak kecil, dsb). Selain itu tempat FGD juga harus memiliki
ruang dan tempat duduk yang memadai (bisa lantai atau kursi). Posisi duduk
peserta harus setengah atau tiga perempat lingkaran dengan posisi moderator
sebagai fokusnya.
Jika
FGD dilakukan di sebuah ruang yang terdapat pintu masuk yang depannya ramai
dilalui orang, maka hanya moderator yang boleh menghadap pintu tersebut,
sehingga peserta tidak akan terganggu oleh berbagai “pemandangan” yang dapat
dilihat diluar rumah.
Jika digambarkan, layout ruang
diskusi dapat dilihat sebagai berikut:
(Irwanto, 2006: 68)
3) Menyiapkan Logistik
Logistik
adalah berbagai keperluan teknis yang dipelukan sebelum, selama, dan sesudah
FGD terselenggara. Umumnya meliputi peralatan tulis (ATK), dokumentasi
(audio/video), dan kebutuhan-kebutuhan peserta FGD: seperti transportasi;
properti rehat: alat ibadah, konsumsi (makanan kecil dan atau makan utama);
insentif; akomodasi (jika diperlukan); dan lain sebagainya.
Insentif
dalam penyelenggaraan FGD adalah suatu hal ya:Anna rakino,ng wajar diberikan. Selain sebagai
strategi untuk menarik minat peserta, pemberian insentif juga merupakan bentuk
ungkapan terimakasih peneliti karena peserta FGD bersedia meluang:Anna rakino,kan waktu dan
pikiran untuk mencurahkan pendapatnya dalam FGD. Jika perlu, sejak awal,
dicantumkan dalam undangan mengenai intensif apa yang akan mereka peroleh jika
datang dan aktif dalam FGD. Mengenai bentuk dan jumlahnya tentu disesuaikan
dengan sumberdaya yang dimiliki peneliti. Umumnya insentif dapat berupa
sejumlah uang atau souvenir (cinderamata).
4). Jumlah Peserta
Dalam
FGD, jumlah perserta menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan. Menurut
beberapa literatur tentang FGD (lihat misalnya Sawson, Manderson & Tallo,
1993; Irwanto, 2006; dan Morgan D.L, 1998) jumlah yang ideal adalah 7 -11
orang, namun ada juga yang menyarankan jumlah peserta FGD lebih kecil,
yaitu 4-7 orang (Koentjoro, 2005: 7) atau 6-8 orang (Krueger
& Casey, 2000: 4). Terlalu sedikit tidak memberikan variasi yang menarik,
dan terlalu banyak akan mengurangi kesempatan masing-masing peserta untuk
memberikan sumbangan pikiran yang mendalam. Jumlah peserta dapat dikurangi atau
ditambah tergantung dari tujuan penelitian dan fasilitas yang ada.
5). Rekruitmen Peserta: Homogen atau
Heterogen?
Tekait dengan homogenitas atau
heterogenitas peserta FGD, Irwanto (2006: 75-76) mengemukakan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
1.
Pemilihan derajat homogenitas atau
heterogenitas peserta harus sesuai dengan tujuan awal diadakannya FGD.
2.
Pertimbangan persoalan homogenitas
atau heterogenitas ini melibatkan variabel tertentu yang diupayakan untuk
heterogen atau homogen. Variabel sosio-ekonomi atau gender boleh heterogen,
tetapi peserta itu harus memahami atau mengalami masalah yang didiskusikan.
Dalam mempelajari persoalan makro seperti krisi:Anna rakino,s ekonomi atau bencana alam
besar, FGD dapat dilakukan dengan peserta yang bervariasi latar belakang sosial
ekonominya, tetapi dalam persoalan spesifik, seperti perkosaan atau
diskriminasi, sebaiknya peserta lebih homogen.
3.
Secara mendasar harus disadari bahwa
semakin homogen sebenarnya semakin tidak perlu diadakan FGD karena dengan
mewawancarai satu orang saja juga akan diperoleh hasil yang sama atau relatif
sama.
4.
Semakin heterogen semakin sulit
untuk menganalisis hasil FGD karena variasinya terlalu besar.
5.
Homogenitas-heterogenita:Anna rakino,s tergantung
dari beberapa aspek. Jika jenis kelamin, status sosial ekonomi, latar belakang
agama homogen, tetapi dalam melaksanakan usaha kecil heterogen, maka kelompok
tersebut masih dapat berjalan dengan baik dan FGD masih dianggap perlu.
6.
Pertimbangan utama dalam menentukan
homogenitas-heterogenitas adalah ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh
heterogen dan ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh homogen.
j.
Menyusun Pertanyaan FGD
Kunci dalam membuat panduan diskusi
yang terarah adalah membuat pertanyaan-pertanyaan kunci sebagai panduan
diskusi. Untuk mengembangkan pertanyaan FGD, lakukan hal-hal berikut:
§
Baca lagi tujuan penelitian
§
Baca lagi tujuan FGD
§
Pahami jenis informasi seperti apa yang ingin
Anda dapatkan dari FGD
§
Bagaimana Anda akan menggunakan informasi
tersebut
§
Tulis pertanyaan umum ke khusus. Sebaiknya
jangan lebih dari 5 (lima) pertanyaan inti.
§
Rumuskan pertanyaan dalam bahasa yang sederhana
dan jelas. Hindari konsep besar yang kabur
maknanya.
§
Uji pertanyaan-pertanyaan tersebut pada
teman-teman dalam tim Anda.
Berbeda
dengan wawancara, dalam FGD moderator tidaklah selalu bertanya. Bahkan
semestinya tugas moderator bukan bertanya, melainkan mengemukakan suatu
permasalahan, kasus, atau kejadian sebagai bahan pancingan diskusi. Dalam
prosesnya memang ia sering bertanya, namun itu dilakukan hanya sebagai
ketrampilan mengelola diskusi agar tidak didominasi oleh sebagian peserta atau
agar diskusi tidak macet (Irwanto, 2006: 2)
k.
Pelaksanaan FGD
Keberhasilan
pelaksanaan FGD sangat ditentukan oleh kecakapan moderator sebagai “Sang
Sutradara”. Peran Moderator dalam FGD dapat dilihat dari aktivitas utamanya,
baik yang bersifat pokok (secara prosedural pasti dilakukan) maupun yang
tentatif (hanya diperlukan jika memang situasi menghendaki demikian).
Peran-peran
tersebut adalah (a) membuka FGD, (b) meminta klarifikasi, (c) melakukan
refleksi, (d) memotivasi, (e) probing (penggalian lebih dalam), (f) melakukan blocking
dan distribusi (mencegah ada peserta yang dominan dan memberi kesempatan yang
lain untuk bersuara), (g) reframing, (h) refokus, (i) melerai perdebatan, (j)
memanfaatkan jeda (pause), (k) menegosiasi waktu, dan (l) menutup FGD.
Dalam
pelaksanaan FGD, kunci utama agar proses diskusi berjalan baik adalah
permulaan. Untuk membuat suasana akrab, cair, namun tetap terarah, tugas awal
moderator terkait dengan permulaan diskusi yaitu (1) mengucapkan selamat
datang, (2) memaparkan singkat topik yang akan dibahas (overview), (3)
membacakan aturan umum diskusi untuk disepakati bersama (atau hal-hal lain yang
akan membuat diskusi berjalan mulus), dan (4) mengajukan pertanyaan pertama
sebagai panduan awal diskusi. Untuk itu usahakan, baik pertanyaan maupun respon
dari jawaban pertama tidak terlalu bertele-tele karena akan menjadi acuan bagi
efisisensi proses diskusi tersebut.
l. Analisis
Data dan Penyusunan Laporan FGD
Analisis data dan Penulisan Laporan
FGD adalah tahap akhir dari kerja keras peneliti. Langkah-langkahnya dapat
ditempuh sebagai berikut:
a.
Mendengarkan atau melihat kembali rekaman FGD
b.
Tulis kembali hasil rekaman secara utuh (membuat
transkrip/verbatim)
c.
Baca kembali hasil transkrip
d.
Cari mana masalah-masalah (topik-topik) yang menonjol
dan berulang-ulang muncul dalam transkrip, lalu kelompokan menurut masalah atau
topik. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang berbeda untuk
mengurangi “bias” dan “subjektifitas”. Pengkategorian bisa juga dilakukan
dengan mengikuti Topik-topik dan subtopik dalam Panduan diskusi. Jangan lupa
merujuk catatan yang dibuat selama proses FGD berlangsung.
e.
Karena berhubungan dengan kelompok, data-data yang
muncul dalam FGD biasanya mencakup:
1.
Konsensus
2.
Perbedaan Pendapat
3.
Pengalaman yang Berbeda
4.
Ide-ide inovatif yang muncul, dan sebagainya.
f.
Buat koding dari
hasil transkripsi menurut pengelompokan masalah/topik, misalnya tentang
Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja dibuat kode:
Kode
1 untuk perilaku seks remaja
Bisa dipecah lagi menjadi:
Kode 1a : aturan/nilai-nilai
menyangkut perilaku seks remaja
Kode 1b : pengalaman seksual
Kode
2 untuk masalah kesehatan reproduksi remaja,
Bisa dipecah lagi:
Kode 2a : masalah tiadanya informasi
kesehatan reproduksi
Kode 2b : masalah tidak adanya
pelayanan untuk remaja, dst
Kode
3 untuk kebutuhan remaja
Menurut Irwanto (2006: 82-86), dalam
melakukan analisis FGD, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1.
Periksa dahulu, apakah tujuan FGD
tercapai—antara lain terlihat dari jumlah pertanyaan yang ditanyakan
(dieksekusi) apa:Anna rakino,kah sesuai dengan rencana awal?
2.
Adakah perubahan dalam tujuan FGD yang
terjadi karena input dari peserta?
3.
Identifikasi masalah utama yang
dikemukakan oleh peserta. Untuk itu perhatikan tema sentral dalam TOR FGD.
4.
Adakah variasi peserta dalam
persoalan utama ini? Bagaimana variasinya? Mengapa? (Perbedaan-perbedaan yang
muncul tersebut ada yang sangat ekstrim sampai yang hanya berbeda sedikit saja.
Jika perbedaan ini timbul, keduanya harus disajikan dalam laporan.
5.
Selain persoalan utama itu, adakah
persoalan lain (tema-tema lain) yang muncul dalam diskusi? Apa saja? Mana yang
relevan dengan tujuan FGD?
6.
Buatlah suatu kerangka prioritas
dari persoalan-persoalan yang muncul. Dengan melihat sumber daya peneliti dan
stakehol:Anna rakino,ders, pilihlah masalah-masalah apakah dapat diselesaikan dapat
diselsaikan dalam jangka waktu pendek atau panjang. Selain itu coba dipilih
persoalan yang tidak kunung selesai, misalnya yang menyangkut perubahan apda
tingkat makro (terutama struktur ekonomi dan politik).
7.
Lakukan koding sesuai dengan
faktor-faktor yang dikehendaki.
Setelah pekerjaan di atas selesai,
baru hasilnya dituliskan atau dilaporkan dengan cara berikut:
1.
Tuliskan topik-topik/masalah-masalah
yang ditemukan dari hasil FGD. Setelah itu tuliskan juga “kutipan-kutipan
langsung” (apa kata orang yang berdiskusi) mengenai masalah tersebut
2.
Bahas topik-topik atau
masalah-masalah yang diungkapkan bersama tim peneliti. Lakukan topik demi
topik, sampai semua topik/masalah penting selesai dilaporkan dan dibahas.
Tidak
boleh dilupakan, keseluruhan laporan FGD harus memuat poin-poin berikut ini:
(a) identitas subjek (untuk kasus tertentu diperlukan deskripsi subjek, bisa
ditulis dalam lampiran); (b) tujuan FGD; (c) bentuk FGD; (d) waktu FGD; (e)
tempat berlangsungnya FGD; (f) alat bantu dalam FGD; (g) berapa kali dilakukan
FGD; (h) tema-tema atau temuan penting dalam FGD, (i) kendala-kendala selama
proses FGD; (j) pemahaman-pemaknaan FGD; dan (k) pembahasan hasil FGD.
:Anna rakino,--- luv u all

Tidak ada komentar:
Posting Komentar