lotus bunga terindah
sebuah rindu yang terpojok di pinggir danau yang dipagar hijau penuh cinta.
Jumat, 15 Juni 2012
fox rain-lee sun hee
Pas pertama kali denger lagu ini rasanya hatiku meledak sedih banget. rasanya kayak aku lagi patah hati...
Bwat yang suka lagi ini. met menikmati aja... hiks hiks
fox rain-lee sun hee
Sarangeul ajik nan mollaseo
Deoneun gakkai motgayo
Geunde wae jakkuman motnan nae simjangeun
Dugeungeorinayo
Nan dangsini jakkuman barphyeoseo
Geunyang gal sudo eomneyo
Irueojil su do eomneun i sarange
Nae mami neomu apayo
Haruga gago bami omyeon
Nan ontong dangsin saenggakppunijyo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteoke haeya joheulkkayo
Maeumi sarangeul ttareuni
Naega mwol hal su innayo
Irueojil sudo eomneun i sarange
Nae mami neomu apayo
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru…
Haruga gago bami omyeon
Nan ontong dangsin saenggakppunijyo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteoke haeya hanayo
Nae apeumi mudyeojyeo beoril nari
Eonjejjeum naege ogin halkkayo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteokhae haran maringayo
Dalbichi neomuna johaseo
Geunyang gal suga eomneyo
Dangsin gyeote jamsi nuwo isseulgeyo
Jamsiman aju jamsiman
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru
dubirubiruraffa..
Terjemahan Bahasa Indonesia
Aku masih tidak mengerti cinta
Jadi aku tidak bisa mendekatinya
Tapi mengapa hati bodohku ini terus saja berdebar?
Aku dihantui oleh kau lagi dan lagi
Aku hanya tidak bisa pergi
harapan cinta ini begitu
Menyakitkan hatiku
Pergi dari siang hingga malam hari
Dirimu ku berpikir tentang
Menjadi begitu menyedihkan dan konyol
Apa yang harus ku lakukan?
Hati ini mengikuti cinta
Apa yang harus ku lakukan?
Harapan cinta ini begitu
Menyakitkan hatiku
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru
dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru …
Pergi dari siang ke malam hari
Dirimu ku berpikir tentang
Menjadi begitu menyedihkan dan konyol
Apa yang harus ku lakukan setelah ini semua?
Hari ketika sakitku menghilang
Akankah hari itu datang?
Menjadi begitu menyedihkan dan konyol
Apa yang dapat ku lakukan setelah semua?
Cahaya bulan begitu indah
Aku hanya tidak bisa pergi
biarkanku berbaring di sisismu untuk beberapa saat
Sesaat, hanya sesaat
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru
dubirubiruraffa ..
Focus Group Discussion (FGD)
a.
Definisi FGD
·
Focus
Group Discussion (FGD) merupakan bentuk penelitian kualitatif di mana sekelompok orang yang
bertanya tentang sikap mereka terhadap produk, layanan, konsep, iklan, ide,
atau kemasan. Pertanyaan diminta dalam grup pengaturan interaktif dimana
peserta bebas untuk berbicara dengan anggota kelompok lainnya. Dalam FGD
biasanya terdapat suatu topik yang dibahas dan didiskusikan bersama.:Anna rakino,
·
FGD
adalah suatu metode riset yang oleh Irwanto (1988:1) didefinisikan sebagai
“suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang
sangat spesifik melalui diskusi kelompok” (Irwanto, 1988:1). Dengan perkataan
lain FGD merupakan proses pengumpulan informasi bukan melalui wawancara, bukan
perorangan,dan bukan diskusi bebas tanpa topik spesifik. Metode FGD termasuk
metode kualitatif. Seperti metode kualitatif lainnya (direct observation,
indepth interview, dsb) FGD berupaya menjawab jenis-jenis pertanyaan how-and
why, bukan jenis-jenis pertanyaan what-and-how-many yang khas untuk
metode kuantitatif (survei, dsb). FGD dan metode kualitatif lainnya sebenarnya
lebih sesuai dibandingkan metode kuantitatif untuk suatu studi yang bertujuan “to
generate theories and explanations” (Morgan and Kruger, 1993;9):Anna rakino,
b.
Prinsip-Prinsip FGD
1.
FGD adalah kelompok diskusi bukan
wawancara atau obrolan. :Anna rakino,Ciri khas metode FGD yang tidak dimiliki oleh metode
riset kualitaif lainnya (wawancara mendalam atau observasi) adalah interaksi!
Hidup mati sebuah FGD terletak pada ciri ini. Tanpa interaksi sebuah FGD
berubah wujud menjadi kelompok wawancara terfokus (FGI-Focus Group Interview).
Hal ini terjadi apabila moderator cenderung selalu mengkonfirmasi setiap topik
satu per satu kepada seluruh peserta FGD. Semua peserta FGD secara bergilir
diminta responnya untuk setiap topik, sehingga tidak terjadi dinamika kelompok.
Komunikasi hanya berlangsung antara moderator dengan informan A, informan A ke
moderator, lalu moderator ke informan B, informan B ke moderator, dst. Yang
seharusnya terjadi adalah moderator lebih banyak “diam” dan peserta FGD lebih
banyak omong alias “cerewet”. Kondisi idealnya, Informan A merespon topik yang
dilemparkan moderator, disambar oleh informan B, disanggah oleh informan C,
diklarifikasi oleh informan A, didukung oleh informan D, disanggah oleh
informan E, dan akhirnya ditengahi oleh moderator kembali. Diskusi seperti itu
sangat interaktif, hidup, dinamis!
2.
FGD adalah group bukan individu. Prinsip
ini masih terkait dengan prinsip sebelumnya. Agar terjadi dinamika kelompok,
moderator harus memandang para peserta FGD sebagai suatu group, bukan orang per
orang. Selalu melemparkan topik ke “tengah” bukan melulu tembak langsung ke
peserta FGD.
3.
FGD adalah diskusi terfokus bukan diskusi
bebas. Prinsip ini melengkapi prinsip pertama di atas. Diingatkan bahwa jangan
hanya mengejar interaksi dan dinamika kelompok, kalau hanya mengejar hal
tersebut diskusi bisa berjalan ngawur. Selama diskusi berlangsung moderator
harus fokus pada tujuan diskusi, sehingga moderator akan selalu berusaha
mengembalikan diskusi ke “jalan yang benar”. Moderator memang dituntut untuk
mencairkan suasana (ice breaking) agar diskusi tidak berlangsung kaku,
namun kadang-kadang proses ice breaking ini kelamaan, moderator ikut
larut dalam “keceriaan” kelompok, ber ha-ha-hi-hi, dan baru tersadar ketika
masih banyak hal yang belum tergali, sementara para peserta sudah mulai
kehilangan “energi”.:Anna rakino,
c.
Jenis FGD
1. Two-way focus group (FGD
dua arah) - satu kelompok disaksikan kelompok lain dan membahas diamati
interaksi dan kesimpulan
2. Dual moderator focus group
(Dual moderator fokus grup) - moderator memastikan satu sesi berlangsung
lancar, sementara yang lain memastikan bahwa semua topik yang dibahas
3. Dueling moderator focus group
- dua moderator berada pada sisi yang berlawanan saat berdiskusi.
4. Respondent moderator focus
group - satu atau lebih dari responden diminta untuk bertindak sebagai
moderator sementara
5. Client participant focus
groups - satu atau lebih perwakilan klien berpartisipasi dalam diskusi,
baik tertutup ataupun terbuka
6. Mini focus groups -
kelompok yang terdiri dari empat atau lima anggota bukan 8 -12
7. Teleconference focus groups
–FGD yang menggunakan jaringan telepon
8. Online focus groups (FGD
online) – menggunakan internet
d.
Tujuan FGD
- memperoleh pemahaman tentang subjek yang diteliti;
- memberikan gambaran yang akurat dari pengalaman subjek realitas;
- mengevaluasi dan menganalisa kebutuhan;
- merumuskan intervensi;
- menguji ide-ide baru atau program;
- meningkatkan program yang ada;
- mendapatkan berbagai informasi tentang topik yang diberikan dalam rangka untuk mengembangkan kuesioner yang lebih terstruktur;
- menginformasikan kebijakan.
Dalam ilmu
sosial dan perencanaan perkotaan, FGD memungkinkan orang untuk belajar di alam
pengaturan yang lebih dari satu-ke-satu wawancara. Dalam kombinasi dengan
pengamatan peserta, FGD dapat digunakan untuk mendapatkan akses ke berbagai
kelompok sosial dan budaya, memilih situs untuk belajar, sampel dari situs
tersebut, dan meningkatkan masalah tak terduga untuk eksplorasi. FGD memiliki
ide yang mudah dimengerti dan hasil yang terpercaya. FGD yang rendah dalam
biaya, satu dapat memperoleh hasil yang relatif cepat, dan mereka dapat
meningkatkan ukuran sampel laporan dengan berbicara dengan beberapa orang
sekaligus. (Berdasarkan: Marshall and Rossman, Designing Qualitative Research ,
3rd Ed. London: Sage Publications, 1999, p. 115).:Anna rakino,
FGD
tradisional dapat memberikan informasi yang akurat, dan tidak terlalu mahal
dibanding daerah lain bentuk tradisional peneliti:Anna rakino,an pemasaran. Bisa menimbulkan
biaya yang signifikan jika sebuah produk untuk dipasarkan di seluruh negara,
akan sangat penting untuk mengumpulkan responden lokal dari berbagai negara
tentang produk baru yang mungkin berbeda-beda karena pertimbangan geografis.
Hal ini akan memerlukan cukup besar dalam pengeluaran biaya perjalanan dan
penginapan. Selain itu, lokasi FGD tradisional mungkin atau tidak mungkin
berada di tempat yang nyaman untuk klien tertentu, sehingga klien perwakilan
mungkin harus mendatangkan biaya perjalanan dan penginapan juga. Penggunaan FGD
terus berkembang seiring waktu dan menjadi semakin meluas.
e.
Kapan FGD Harus Digunakan?
FGD harus dipertimbangkan untuk
digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:
1.
Peneliti ingin memperoleh informasi
mendalam tentang tingkatan persepsi, sikap, dan pengalaman yang dimiliki
informan.
2.
Peneliti ingin memahami lebih lanjut
keragaman perspektif di antara kelompok atau kategori masyarakat.
3.
Peneliti membutuhkan informasi
tambahan berupa data kualitatif dari riset kuantitatif yang melibatkan
persoalan masyarakat yang kompleks dan berimplikasi luas.
4.
Peneliti ingin memperoleh kepuasan
dan nilai akurasi yang tinggi karena mendengar pendapat langsung dari subjek
risetnya.
f.
Kapan FGD Tidak Diperlukan?
FGD harus dipertimbangkan untuk tidak
digunakan sebagai metode penelitian sosial jika:
1.
Peneliti ingin memperoleh konsensus
dari masyarakat/peserta
2.
Peneliti ingin mengajarkan sesuatu
kepada peserta
3.
Peneliti akan mengajukan pertanyaan
“sensitif” yang tidak akan bisa di-share dalam sebuah forum bersama
kecuali jika pertanyaan tersebut diajukan secara personal antara peneliti dan
informan.
4.
Peneliti tidak dapat meyak:Anna rakino,inkan atau
menjamin kerahasiaan diri informan yang berkategori “sensitif”.
5.
Metode lain dapat menghasilkan
kualitas informasi yang lebih baik
6.
Metode lain yang lebih ekonomis
dapat menghasilkan informasi yang sama.
Meskipun terlihat sederhana,
menyelenggarakan suatu FGD yang hanya berlangsung 1 -3 jam, memerlukan
persiapan, kemampuan, dan keahlian khusus. Ada prosedur dan standar tertentu
yang harus diikuti agar hasilnya benar dan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai.
g.
Mengapa FGD?
Irwanto (2006: 3- 6) mengemukakan
tiga alasan perlunya melakukan FGD, yaitu alasan filosofis, metodologis, dan
praktis.
1.
Alasan Filosofis
·
Pengetahuan yang diperoleh dalam
menggunakan sumber informasi dari berbagai latar belakang pengalaman tertentu
dalam sebuah proses diskusi, memberikan perspektif yang berbeda dibanding
pengetahuan yang diperoleh dari komunikasi searah antara peneliti dengan
responden.
·
Penelitian tidak selalu terpisah
dengan aksi. Diskusi sebagai proses pertemuan antarpribadi sudah merupakan
bentuk aksi .
2.
Alasan Metodologis
·
Adanya keyakinan bahwa masalah yang
diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei atau wawancara individu
karena pendapat kelompok dinilai sangat penting.
·
Untuk memperoleh data kualitatif
yang bermutu dalam waktu relatif singkat.
·
FGD dinilai paling tepat dalam menggali
permasalahan yang bersifat spesifik, khas, dan lokal. FGD yang melibatkan
masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan yang paling sesuai.
3.
Alasan Praktis
·
Penelitian yang bersifat aksi membutuhkan
perasaan memiliki dari objek yang diteliti- sehingga pada saat peneliti
memberikan rekomendasi dan aksi, dengan mudah objek penelitian bersedia
menerima rekomendasi tersebut. Partisipasi dalam FGD memberikan kesempatan bagi
tumbuhnya kedekatan dan perasaan memiliki.:Anna rakino,
h. Kegunaan FGD
Menurut
Koentjoro (2005: 7), kegunaan FGD di samping sebagai alat pengumpul data adalah
sebagai alat untuk meyakinkan pengumpul data (peneliti) sekaligus alat re-check
terhadap berbagai keterangan/informasi yang didapat melalui berbagai metode
penelitian yang digunakan atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, baik
keterangan yang sejenis maupun yang bertentangan.
Dari berbagai keterangan di atas,
dapat disimpulkan dalam kaitannya dengan penelitian, FGD berguna untuk:
a.
Memperoleh informasi yang banyak secara cepat;
b.
Mengidentifikasi dan menggali informasi mengenai
kepercayaan, sikap dan perilaku kelompok tertentu;
c.
Menghasilkan ide-ide untuk penelitian lebih mendalam;
dan
d.
Cross-check data dari sumber lain atau dengan
metode lain.
i.
Persiapan dan Desain Rancangan FGD
Sebagai sebuah metode penelitian,
pelaksanaan FGD memerlukan perencanaan matang dan tidak asal-asalan. Untuk
diperlukan beberapa persiapan sebagai berikut: 1) Membentuk Tim; 2) Memilih
Tempat dan Mengatur Tempat; 3) Menyiapkan Logistik; 4 Menentukan Jumlah
Peserta; dan 5) Rekruitmen Peserta.
1) Membentuk Tim
Tim FGD umumnya mencakup:
1.
Moderator,
yaitu fasilitator diskusi yang terlatih dan memahami masalah yang dibahas serta
tujuan penelitian yang hendak dicapai (ketrampilan substantif), serta
terampil mengelola diskusi (ketrampilan proses).
2.
Asisten Moderator/co-fasilitator,
yaitu orang yang intensif mengamati jalannya FGD, dan ia membantu moderator
mengenai: waktu, fokus diskusi (apakah tetap terarah atau keluar jalur), apakah
masih ada pertanyaan penelitian yang belum terjawab, apakah ada peserta FGD
yang terlalu pasif sehingga belum memperoleh kesempatan berpendapat.
3.
Pencatat Proses/Notulen,
yaitu orang bertugas mencatat inti permasalahan yang didiskusikan serta
dinamika kelompoknya. Umumnya dibantu dengan alat pencatatan berupa satu unit
komputer atau laptop yang lebih fleksibel.
4.
Penghubung Peserta,
yaitu orang yang mengenal (person, medan), menghubungi, dan memastikan
partisipasi peserta. Biasanya disebut mitra kerja lokal di daerah penelitian.
5.
Penyedia Logistik,
yaitu orang-orang yang membantu kelancaran FGD berkaitan dengan penyediaan
transportasi, kebutuhan rehat, konsumsi, akomodasi (jika diperlukan), insentif
(bisa uang atau barang/cinderamata), alat dokumentasi, dll.
6.
Dokumentasi,
yaitu orang yang mendokumentasikan kegiatan dan dokumen FGD: memotret, merekam
(audio/video), dan menjamin :Anna rakino,erjalannya alat-alat dokumentasi, terutama
perekam selama dan sesudah FGD berlangsung.
7.
Lain-lain
jika diperlukan (tentatif), misalnya petugas antar-jemput, konsumsi, bloker
(penjaga “keamanan” FGD, dari gangguan, misalnya anak kecil, preman, telepon
yang selalu berdering, teman yang dibawa peserta, atasan yang datang mengawasi,
dsb)
2) Memilih dan Mengatur Tempat
Pada
prinsipnya, FGD dapat dilakukan di mana saja, namun seyogianya tempat FGD yang
dipilih hendaknya merupakan tempat yang netral, nyaman, aman, tidak bising,
berventilasi cukup, dan bebas dari gangguan yang diperkirakan bisa muncul
(preman, pen:Anna rakino,gamen, anak kecil, dsb). Selain itu tempat FGD juga harus memiliki
ruang dan tempat duduk yang memadai (bisa lantai atau kursi). Posisi duduk
peserta harus setengah atau tiga perempat lingkaran dengan posisi moderator
sebagai fokusnya.
Jika
FGD dilakukan di sebuah ruang yang terdapat pintu masuk yang depannya ramai
dilalui orang, maka hanya moderator yang boleh menghadap pintu tersebut,
sehingga peserta tidak akan terganggu oleh berbagai “pemandangan” yang dapat
dilihat diluar rumah.
Jika digambarkan, layout ruang
diskusi dapat dilihat sebagai berikut:
(Irwanto, 2006: 68)
3) Menyiapkan Logistik
Logistik
adalah berbagai keperluan teknis yang dipelukan sebelum, selama, dan sesudah
FGD terselenggara. Umumnya meliputi peralatan tulis (ATK), dokumentasi
(audio/video), dan kebutuhan-kebutuhan peserta FGD: seperti transportasi;
properti rehat: alat ibadah, konsumsi (makanan kecil dan atau makan utama);
insentif; akomodasi (jika diperlukan); dan lain sebagainya.
Insentif
dalam penyelenggaraan FGD adalah suatu hal ya:Anna rakino,ng wajar diberikan. Selain sebagai
strategi untuk menarik minat peserta, pemberian insentif juga merupakan bentuk
ungkapan terimakasih peneliti karena peserta FGD bersedia meluang:Anna rakino,kan waktu dan
pikiran untuk mencurahkan pendapatnya dalam FGD. Jika perlu, sejak awal,
dicantumkan dalam undangan mengenai intensif apa yang akan mereka peroleh jika
datang dan aktif dalam FGD. Mengenai bentuk dan jumlahnya tentu disesuaikan
dengan sumberdaya yang dimiliki peneliti. Umumnya insentif dapat berupa
sejumlah uang atau souvenir (cinderamata).
4). Jumlah Peserta
Dalam
FGD, jumlah perserta menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan. Menurut
beberapa literatur tentang FGD (lihat misalnya Sawson, Manderson & Tallo,
1993; Irwanto, 2006; dan Morgan D.L, 1998) jumlah yang ideal adalah 7 -11
orang, namun ada juga yang menyarankan jumlah peserta FGD lebih kecil,
yaitu 4-7 orang (Koentjoro, 2005: 7) atau 6-8 orang (Krueger
& Casey, 2000: 4). Terlalu sedikit tidak memberikan variasi yang menarik,
dan terlalu banyak akan mengurangi kesempatan masing-masing peserta untuk
memberikan sumbangan pikiran yang mendalam. Jumlah peserta dapat dikurangi atau
ditambah tergantung dari tujuan penelitian dan fasilitas yang ada.
5). Rekruitmen Peserta: Homogen atau
Heterogen?
Tekait dengan homogenitas atau
heterogenitas peserta FGD, Irwanto (2006: 75-76) mengemukakan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
1.
Pemilihan derajat homogenitas atau
heterogenitas peserta harus sesuai dengan tujuan awal diadakannya FGD.
2.
Pertimbangan persoalan homogenitas
atau heterogenitas ini melibatkan variabel tertentu yang diupayakan untuk
heterogen atau homogen. Variabel sosio-ekonomi atau gender boleh heterogen,
tetapi peserta itu harus memahami atau mengalami masalah yang didiskusikan.
Dalam mempelajari persoalan makro seperti krisi:Anna rakino,s ekonomi atau bencana alam
besar, FGD dapat dilakukan dengan peserta yang bervariasi latar belakang sosial
ekonominya, tetapi dalam persoalan spesifik, seperti perkosaan atau
diskriminasi, sebaiknya peserta lebih homogen.
3.
Secara mendasar harus disadari bahwa
semakin homogen sebenarnya semakin tidak perlu diadakan FGD karena dengan
mewawancarai satu orang saja juga akan diperoleh hasil yang sama atau relatif
sama.
4.
Semakin heterogen semakin sulit
untuk menganalisis hasil FGD karena variasinya terlalu besar.
5.
Homogenitas-heterogenita:Anna rakino,s tergantung
dari beberapa aspek. Jika jenis kelamin, status sosial ekonomi, latar belakang
agama homogen, tetapi dalam melaksanakan usaha kecil heterogen, maka kelompok
tersebut masih dapat berjalan dengan baik dan FGD masih dianggap perlu.
6.
Pertimbangan utama dalam menentukan
homogenitas-heterogenitas adalah ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh
heterogen dan ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh homogen.
j.
Menyusun Pertanyaan FGD
Kunci dalam membuat panduan diskusi
yang terarah adalah membuat pertanyaan-pertanyaan kunci sebagai panduan
diskusi. Untuk mengembangkan pertanyaan FGD, lakukan hal-hal berikut:
§
Baca lagi tujuan penelitian
§
Baca lagi tujuan FGD
§
Pahami jenis informasi seperti apa yang ingin
Anda dapatkan dari FGD
§
Bagaimana Anda akan menggunakan informasi
tersebut
§
Tulis pertanyaan umum ke khusus. Sebaiknya
jangan lebih dari 5 (lima) pertanyaan inti.
§
Rumuskan pertanyaan dalam bahasa yang sederhana
dan jelas. Hindari konsep besar yang kabur
maknanya.
§
Uji pertanyaan-pertanyaan tersebut pada
teman-teman dalam tim Anda.
Berbeda
dengan wawancara, dalam FGD moderator tidaklah selalu bertanya. Bahkan
semestinya tugas moderator bukan bertanya, melainkan mengemukakan suatu
permasalahan, kasus, atau kejadian sebagai bahan pancingan diskusi. Dalam
prosesnya memang ia sering bertanya, namun itu dilakukan hanya sebagai
ketrampilan mengelola diskusi agar tidak didominasi oleh sebagian peserta atau
agar diskusi tidak macet (Irwanto, 2006: 2)
k.
Pelaksanaan FGD
Keberhasilan
pelaksanaan FGD sangat ditentukan oleh kecakapan moderator sebagai “Sang
Sutradara”. Peran Moderator dalam FGD dapat dilihat dari aktivitas utamanya,
baik yang bersifat pokok (secara prosedural pasti dilakukan) maupun yang
tentatif (hanya diperlukan jika memang situasi menghendaki demikian).
Peran-peran
tersebut adalah (a) membuka FGD, (b) meminta klarifikasi, (c) melakukan
refleksi, (d) memotivasi, (e) probing (penggalian lebih dalam), (f) melakukan blocking
dan distribusi (mencegah ada peserta yang dominan dan memberi kesempatan yang
lain untuk bersuara), (g) reframing, (h) refokus, (i) melerai perdebatan, (j)
memanfaatkan jeda (pause), (k) menegosiasi waktu, dan (l) menutup FGD.
Dalam
pelaksanaan FGD, kunci utama agar proses diskusi berjalan baik adalah
permulaan. Untuk membuat suasana akrab, cair, namun tetap terarah, tugas awal
moderator terkait dengan permulaan diskusi yaitu (1) mengucapkan selamat
datang, (2) memaparkan singkat topik yang akan dibahas (overview), (3)
membacakan aturan umum diskusi untuk disepakati bersama (atau hal-hal lain yang
akan membuat diskusi berjalan mulus), dan (4) mengajukan pertanyaan pertama
sebagai panduan awal diskusi. Untuk itu usahakan, baik pertanyaan maupun respon
dari jawaban pertama tidak terlalu bertele-tele karena akan menjadi acuan bagi
efisisensi proses diskusi tersebut.
l. Analisis
Data dan Penyusunan Laporan FGD
Analisis data dan Penulisan Laporan
FGD adalah tahap akhir dari kerja keras peneliti. Langkah-langkahnya dapat
ditempuh sebagai berikut:
a.
Mendengarkan atau melihat kembali rekaman FGD
b.
Tulis kembali hasil rekaman secara utuh (membuat
transkrip/verbatim)
c.
Baca kembali hasil transkrip
d.
Cari mana masalah-masalah (topik-topik) yang menonjol
dan berulang-ulang muncul dalam transkrip, lalu kelompokan menurut masalah atau
topik. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan oleh dua orang yang berbeda untuk
mengurangi “bias” dan “subjektifitas”. Pengkategorian bisa juga dilakukan
dengan mengikuti Topik-topik dan subtopik dalam Panduan diskusi. Jangan lupa
merujuk catatan yang dibuat selama proses FGD berlangsung.
e.
Karena berhubungan dengan kelompok, data-data yang
muncul dalam FGD biasanya mencakup:
1.
Konsensus
2.
Perbedaan Pendapat
3.
Pengalaman yang Berbeda
4.
Ide-ide inovatif yang muncul, dan sebagainya.
f.
Buat koding dari
hasil transkripsi menurut pengelompokan masalah/topik, misalnya tentang
Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja dibuat kode:
Kode
1 untuk perilaku seks remaja
Bisa dipecah lagi menjadi:
Kode 1a : aturan/nilai-nilai
menyangkut perilaku seks remaja
Kode 1b : pengalaman seksual
Kode
2 untuk masalah kesehatan reproduksi remaja,
Bisa dipecah lagi:
Kode 2a : masalah tiadanya informasi
kesehatan reproduksi
Kode 2b : masalah tidak adanya
pelayanan untuk remaja, dst
Kode
3 untuk kebutuhan remaja
Menurut Irwanto (2006: 82-86), dalam
melakukan analisis FGD, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1.
Periksa dahulu, apakah tujuan FGD
tercapai—antara lain terlihat dari jumlah pertanyaan yang ditanyakan
(dieksekusi) apa:Anna rakino,kah sesuai dengan rencana awal?
2.
Adakah perubahan dalam tujuan FGD yang
terjadi karena input dari peserta?
3.
Identifikasi masalah utama yang
dikemukakan oleh peserta. Untuk itu perhatikan tema sentral dalam TOR FGD.
4.
Adakah variasi peserta dalam
persoalan utama ini? Bagaimana variasinya? Mengapa? (Perbedaan-perbedaan yang
muncul tersebut ada yang sangat ekstrim sampai yang hanya berbeda sedikit saja.
Jika perbedaan ini timbul, keduanya harus disajikan dalam laporan.
5.
Selain persoalan utama itu, adakah
persoalan lain (tema-tema lain) yang muncul dalam diskusi? Apa saja? Mana yang
relevan dengan tujuan FGD?
6.
Buatlah suatu kerangka prioritas
dari persoalan-persoalan yang muncul. Dengan melihat sumber daya peneliti dan
stakehol:Anna rakino,ders, pilihlah masalah-masalah apakah dapat diselesaikan dapat
diselsaikan dalam jangka waktu pendek atau panjang. Selain itu coba dipilih
persoalan yang tidak kunung selesai, misalnya yang menyangkut perubahan apda
tingkat makro (terutama struktur ekonomi dan politik).
7.
Lakukan koding sesuai dengan
faktor-faktor yang dikehendaki.
Setelah pekerjaan di atas selesai,
baru hasilnya dituliskan atau dilaporkan dengan cara berikut:
1.
Tuliskan topik-topik/masalah-masalah
yang ditemukan dari hasil FGD. Setelah itu tuliskan juga “kutipan-kutipan
langsung” (apa kata orang yang berdiskusi) mengenai masalah tersebut
2.
Bahas topik-topik atau
masalah-masalah yang diungkapkan bersama tim peneliti. Lakukan topik demi
topik, sampai semua topik/masalah penting selesai dilaporkan dan dibahas.
Tidak
boleh dilupakan, keseluruhan laporan FGD harus memuat poin-poin berikut ini:
(a) identitas subjek (untuk kasus tertentu diperlukan deskripsi subjek, bisa
ditulis dalam lampiran); (b) tujuan FGD; (c) bentuk FGD; (d) waktu FGD; (e)
tempat berlangsungnya FGD; (f) alat bantu dalam FGD; (g) berapa kali dilakukan
FGD; (h) tema-tema atau temuan penting dalam FGD, (i) kendala-kendala selama
proses FGD; (j) pemahaman-pemaknaan FGD; dan (k) pembahasan hasil FGD.
:Anna rakino,--- luv u all
bete
muales banget jam segini belum bisa tidur....
yang nyebelin cowok yg bakalan (maunya)jadi calon suamiku tidak memilih sapa-sapa...
hiks hiks
padahal q berharap dia memilihku....
yang nyebelin cowok yg bakalan (maunya)jadi calon suamiku tidak memilih sapa-sapa...
hiks hiks
padahal q berharap dia memilihku....
Senin, 30 Januari 2012
Kamis, 26 Januari 2012
curhat 26012012
heiii, if u know
perasaan ku sekarang galaw banget. kayak maw mati aja. proposal sialan, bps sialan, tugas sialan.... sebenarnya yang sialan itu gw . coz gw ga bisa hendel semuanya dengan cepat.... uh kesel deh.....
anyowan can help me......
i'm so stresss i wanna die.............
i hate ma her my friend
i hate her, friend of all herfriend.................
if i can lose from this world
i wanna go. but never place for me......................
all make me will die now................................
owh tommorow my ex boyfriend 2nd will have his birthday
HBD my ex boyfriend
perasaan ku sekarang galaw banget. kayak maw mati aja. proposal sialan, bps sialan, tugas sialan.... sebenarnya yang sialan itu gw . coz gw ga bisa hendel semuanya dengan cepat.... uh kesel deh.....
anyowan can help me......
i'm so stresss i wanna die.............
i hate ma her my friend
i hate her, friend of all herfriend.................
if i can lose from this world
i wanna go. but never place for me......................
all make me will die now................................
owh tommorow my ex boyfriend 2nd will have his birthday
HBD my ex boyfriend
Senin, 09 Januari 2012
TEST PSIKOLOGI TENTANG CINTA
emmmm prakterkan di dpn cowok n rekap ekspresinya
kamu udah nikah belom?....
kalaw dia jawab belom tanya lagi
owwhhh mau ngga kamu nikah ma aku...?
sebelum dy jawab langsung hantam pernyataan 'please'
liat apa ekspresinya.... hehehe
abis itu bilang."just kidding hahahaha" kalaw dy sayang ma kamu pastri ekspresinya bagus, but kalaw dy ga suka ma u pasti dia marah.
SELAMAT MENCOBA. EKSPRESIKAN GAYAMU
kamu udah nikah belom?....
kalaw dia jawab belom tanya lagi
owwhhh mau ngga kamu nikah ma aku...?
sebelum dy jawab langsung hantam pernyataan 'please'
liat apa ekspresinya.... hehehe
abis itu bilang."just kidding hahahaha" kalaw dy sayang ma kamu pastri ekspresinya bagus, but kalaw dy ga suka ma u pasti dia marah.
SELAMAT MENCOBA. EKSPRESIKAN GAYAMU
solusio plasenta
SOLUSIO PLASENTA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta /
ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya
di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum
janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan
pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari
implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan
yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih
berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu
perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding
dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang
menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya
karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah
keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam
keadaan syok.
Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan
pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit
hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor
lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah
tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.
Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam,
sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio
plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian
terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi
uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal
tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.
Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang
relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang
pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami
kekambuhan pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung
menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.
1.2 Batasan Masalah
Makalah yang kami buat ini dibatasi pada
hal-hal yang mngenai solusio plasenta. Tentang definisi solusio plasenta,
etiologi, patofisiologi, klasifikasi solusio plasenta, manifestasi klinis,
pemeriksaan penunjang, komplikasi, prognosis, asuhan keperawatan pada solusio
plasenta.
1.3 RUMUSAN MASALAH
a. Apa definisi solusio plasenta ?
b. Apa etiologi solusio plasenta?
c. Bagaimana patofisiologi dari solusio
plasenta ?
d. Apa saja klasifikasi dari solusio
plasenta ?
f. Apa saja manifestasi klinis dari
solusio plasenta ?
g. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk
pasien dengan solusio plasenta ?
h. Apa saja klasifikasi dari solusio
plasenta ?
i. Apa prognosis dari solusio plasenta ?
j. Bagaimana asuhan keperawatan pada
pasien dengan solusio plasenta ?
1.4 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi solusio
plasenta.
2. Untuk mengetahui etiologi dari solusio
plasenta.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dan solusio
plasenta.
4. Untuk mengetahui kalsifikasi dari
solusio plasenta.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis
dari solusio plasenta.
6. Untuk mengetahui pemeriksaan pemnunjang
untuk solusio plasenta.
7. Untuk mengetahui komplikasi dari
solusio plasenta.
8. Untuk mengetahui prognosis dari solusio
plasenta.
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan
pada pasien dengan solusio plasenta.
1.5 Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu
memberikan sidikit informasi kepada mahasiswa tentang solusio plasenta sampai
asuhan keperawatan pasien dengan solusio plasenta.
BAB 2
ISI
2.1 Definisi
Solusio plasenta adalah terlepasnya
plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum janin lahir, dengan
masa kehamilan 22 minggu / berat janin di atas 500 gr.
2.2 Etiologi
Etiologi dari solusio belum diketahui
secara pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik, trauma
eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol,
penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua.
2.3 Patofisiologi
Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh
perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan
lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual
yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang
berdekatan dengan bagian tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua
menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh
darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena
uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi
optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir
keluar dapat melepaskan selaput ketuban.
Pohon masalah
Trauma
↓
Perdarahan ke dalam desidualbasalis
↓
Terbelah & meninggal lapisan tipis
pada miometrium
↓
Terbentuk hematoma desidual
↓
Penghancuran plasenta
↓
Ruptur pembuluh arteri spinalis desidua
↓
Hematoma retroplasenta
↓
Pelepasan plasenta lebih banyak
Uterus tidak mampu berkontraksi optimal
↓
Darah mengalir keluar dapat melepaskan
selaput ketuban
↓
Syok hipovolemik
2.4 Klasifikasi
2.4.1 Menurut derajat lepasnya plasenta
2.4.1.1 Solusio plasenta partsialis
Bila hanya sebagaian plasenta terlepas
dari tepat pelekatnya.
2.4.1.2 Solusio plasenta totalis
Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari
tempat pelekatnya.
2.4.1.3 Prolapsus plasenta
Bila plasenta turun kebawah dan dapat
teraba pada pemeriksaan dalam.
2.4.2 Menurut derajat solusio plasenta
dibagi menjadi :
2.4.2.1 Solusio plasenta ringan
Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya
sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan
pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agk sakit atau terus
menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.
2.4.2.2 Solusio plasenta sedang
Plasenta telah terlepas lebih dari
seperempat tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala
sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.
2.4.2.3 Solusio plasenta berat
Plasenta telah lepas dari dua pertiga
permukaan disertai penderita shock.
2.5 Manifestasi Klinis
2.5.1 Anamnesis
Perdarahan biasanya pada trimester ketiga,
perdarahan pervaginan berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa
rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang perdarahan
pervaginan yang banyak, syok dan kematian janin intra uterin.
2.5.2 Pemeriksaan fisik
Tanda vital dapat normal sampai
menunjukkan tanda syok.
2.5.3 Pemeriksaan obstetri
Nyeritekan uterus dan tegang,
bagian-bagian janin yang sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai /
tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.
2.6 Pemeriksaan Penunjang
2.6.1 Pemeriksaan laboratorium darah :
hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu protombin, waktu pembekuan, waktu
tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan elektrolit plasma.
2.6.2 Cardiotokografi untuk menilai
kesejahteraan janin.
2.6.3 USG untuk menilai letak plasenta,
usia gestasi dan keadaan janin.
2.7 Komplikasi
2.7.1 Langsung (immediate)
2.7.1.1 perdarahan
2.7.1.2 infeksi
2.7.1.3 emboli dan syok abtetric.
2.7.2 Tidak langsung (delayed)
2.7.2.1 couvelair uterus, sehinga
kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan post partum.
2.7.2.2 hipofibrinogenamia dengan
perdarahan post partum.
2.7.2.3 nikrosis korteks neralis,
menyebabkan anuria dan uremia
2.7.2.4 kerusakan-kerusakan organ seperti
hati, hipofisis.
2.7.3 Tergantung luas plasenta yang
terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Komplikasi pada ibu ialah
perdarahan, koalugopati konsumtif (kadar fibrinogen kurang dari 150 mg % dan
produk degradasi fibrin meningkat), oliguria, gagal ginjal, gawat janin,
kelemahan janin dan apopleksia utero plasenta (uterus couvelar). Bila janin
dapat diselamatkan, dapat terjadi komplikasi asfiksia, berat badan lahir rendah
da sindrom gagal nafas.
2.8 Penatalaksanaan
2.8.1 Harus dilakukan di rumah sakit
dengan fasilitas operasi .
2.8.2 Sebelum dirujuk , anjurkan pasien
untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri , tidak melakukan senggama ,
menghindari eningkatan tekanan rongga perut .
2.8.3 Pasang infus cairan Nacl fisiologi .
Bila tidak memungkinkan . berikan cairan peroral .
2.8.4 Pantau tekanan darah & frekuensi
nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi / syk akibat perdarahan .
pantau pula BJJ & pergerakan janin .
2.8.5 Bila terdapat renjatan , segera
lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak teratasi , upayakan
penyelamatan optimal . bila teratsi perhatikan keadaan janin .
2.8.6 Setelah renjatan diatasi
pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam
diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat diatasi ,
upayakan tindakan penyelamatan optimal .
2.8.7 Setelah syk teratasi dan janin mati
, lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan ketuban lalu infus oksitosin
. bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea .
2.8.8 Bila tidak terdapat renjatan dan
usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr
. penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :
a) Solusi plasenta ringan .
· Ekspektatif , bila ada perbaikan (
perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada , janin hidup ) dengan tirah
baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu persalinan spontan .
· Aktif
, bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi ,
dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi /
infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang
dari 5 / ersalinan masih lama , lakukan seksi sesarea .
b) Slusio plasenta sedang /
berat .
· Resusitasi cairan .
· Atasi anemia dengan pemberian tranfusi
darah .
· Partus
pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila
tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin
2.500 gr / lebih , pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam
diperkirakan berlangsung lama .
2.9 Prognosis
2.9.1 Terhadap ibu
Mortalitas ibu 5 – 10 % hal ini karena
adanya perdarahan sebelum dan sesudah partus.
2.9.2 Terhadap anak
Mortalitas anak tinggi mencapai 70 – 80 %
hal ini tergantung derajat pelepasan dari plasenta.
2.9.3 Terhadap kehamilan berikutnya
Biasanya bila telah menderita penyakit
vaskuler dengan solusio plasenta, maka kehamilan berikutnya sering terjadi
solusio plasenta yang lebih hebat.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
SOLUSIO PLACENTA
3.1 Pengkajian
a. Biodata
Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan
solusio plasenta antara lain
à Nama
Nama dikaji karena nama digunakan untuk
mengenal dan merupakan identitas untuk membedakan dengan pasien lain dan
menghindari kemungkinan tertukar nama dan diagnosa penyakitnya.
à Jenis kelamin
Pada solusio plasenta diderita oleh wanita
yang sudah menikah dan mengalami kehamilan.
à Umur
Solusio plasenta cenderung terjadi pada
usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi penurunan kontraksi akibat
menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa menopause.
à Pendidikan
Solusio plasenta terjadi pada golongan
pendidikan rendah karena mereka tidak mengetahui cara perawatan kehamilan dan
penyebab gangguan kehamilan.
à Alamat
Solusio plasenta terjadi di lingkungan
yang jauh dan pelayanan kesehatan, karena mereka tidak pernah dapat pelayanan
kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.
à Riwayat persalinan
Riwayat persalinan pada solusio plasenta
biasanya pernah mengalami pelepasan plasenta.
à Status perkawinan
Dengan status perkawinan apakah pasien
mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada
hubungannya dengan kehamilan.
à Agama
Untuk mengetahui gambaran dan spiritual
pasien sebagai memudahkan dalam memberikan bimbingan kegamaan.
à Nama suami
Agar diketahui siapa yang bertanggung
jawab dalam pembiayaan dan memberi persetujuan dalam perawatan.
à Pekerjaan
Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien
dalam pembinaan selama istrinya dirawat.
b. Keluhan utama
o Pasien mengatakan perdarahan yang disertai
nyeri
o Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan
karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta,
sehingga rahim tegang.
o Perdarahan yang berulang-ulang.
c. Riwayat penyakit sekarang
Darah terlihat merah kehitaman karena
membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus.
Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah
mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma,
uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.
d. Riwayat penyakit masa lalu
Kemungkinan pasien pernah menderita
penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim
feulidli.
e. Riwayat psikologis
Pasien cemas karena mengalami perdarahan
disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.
f. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
o Kesadaran : composmetis s/d coma
o Postur tubuh : biasanya gemuk
o Cara berjalan : biasanya lambat dan
tergesa-gesa
o Raut wajah : biasanya pucat
2. Tanda-tanda vital
o Tensi : normal sampai turun (syok)
(<>
o Nadi : normal sampai meningkat (>
90x/menit)
o Suhu : normal / meningkat (> 37o
c)
o RR : normal / meningkat (> 24x/menit)
g. Pemeriksaan cepalo caudal
1. Kepala : kulit kepala biasanya normal /
tidak mudah mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.
Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada
cloasma
Hidung : biasanya ada pernafasan cuping
hidung
Mata : conjunctiva anemis
2. Dada : bentuk dada normal, RR
meningkat, nafas cepat da dangkal, hiperpegmentasi aerola.
3. Abdomen
o Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat
etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra
o Palpasi rahim keras, fundus uteri naik
o Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak
terdengar gerakan janin.
4. Genetalia
Hiperpregmentasi pada vagina, vagina
berdarah / keluar darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua paha
/ femur.
5. ekstimitas
Akral dingin, tonus otot menurun.
6. pemeriksaan penunjang
o Darah : Hb, hemotokrit, trombosit,
fibrinogen, elektrolit.
o USG untuk mengetahui letak plasenta,usia
gestasi, keadaan janin.
2. Daftar Diagnosa Keperawatan
a) Gangguan perfusi jaringan berhubungan
dengan perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis , acral dingin , Hb turun
, muka pucat & lemas .
b) Resiko tinggi terjadinya letal distress
berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang .
c) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus , nyeri
tekan uterus .
d) Gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan
dengan keadaan yang dialami .
e) Potensial terjadinya hypovolemik syok
berhubungan dengan perdarahan .
f) Kurang pengetahuan klien tentang keadaan
patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi .
3. Intervensi Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan berhubungan
dengan perdarahan ditandai dengan conjunctiva anemis, acrar dingin, Hb turun,
muka pucat, lemas.
- Tujuan : suplai / kebutuhan darah
kejaringan terpenuhi
- Kriteria hasil
Conjunctiva tida anemis, acral hangat, Hb
normal muka tidak pucat, tida lemas.
- Intervensi
1. Bina hubungan saling percaya dengan
pasien
Rasional : pasien percaya tindakan yang
dilakukan
2. Jelaskan penyebab terjadi perdarahan
Rasional : pasien paham tentang kondisi
yang dialami
3. Monitor tanda-tanda vital
Rasional : tensi, nadiyang rendah, RR dan
suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah.
4. Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30
menit
Rasional : mengantisipasi terjadinya syok
5. Catat intake dan output
Rasional : produsi urin yang kurang dari
30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi ginjal.
6. Kolaborasi pemberian cairan infus
isotonik
Rasional : cairan infus isotonik dapat
mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan.
7. Kolaborasi pemberian tranfusi darah
bila Hb rendah
Rasional : tranfusi darah mengganti
komponen darah yang hilang akibat perdarahan.
b. Resiko tinggi terjadinya fetal distres
berhubungan dengan perfusi darah ke placenta berkurang.
- Tujuan : tidak terjadi fetal distress
- Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar,
bisa berkoordinasi, adanya pergerakan bayi, bayi lahir selamat.
- Intervensi
1. Jelaskan resiko
terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu
Rasional : kooperatif pada tindakan
2. Hindari tidur terlentang
dan anjurkan tidur ke posisi kiri
Rasional : tekanan uterus pada vena cava
aliran darah kejantung menurun sehingga terjadi perfusi jaringan.
3. Observasi tekanan darah dan nadi klien
Rasional : penurunan dan peningkatan
denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava sehingga klien harus di monitor
secara teliti.
4. Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin
Rasional : penurunan frekuensi plasenta
mengurangi kadar oksigen dalam janin sehingga menyebabkan perubahan frekuensi
jantung janin.
5. Berikan O2 10
– 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress
Rasional : meningkat oksigen pada janin
c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan kontraksi uteres ditandai terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus.
- Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan
nyeri
- Kriteria hasil :
* Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi
nyeri.
* Klien kooperatif dengan tindakan yang
dilakukan.
- Intervensi
1. Jelaskan penyebab nyeri
pada klien
Rasional : dengan mengetahui penyebab
nyeri, klien kooperatif terhadap tindakan
2. Kaji tingkat
Rasional : menentukan tindakan keperawatan
selanjutnya.
3. Bantu dan ajarkan
tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.
- Tarik nafas panjang (dalam) melalui hidung
dan meng-hembuskan pelan-pelan melalui mulut.
Rasional : dapat mengalihkan perhatian
klien pada nyeri yang dirasakan.
- Memberikan posisi yang nyaman (miring
kekiri / kanan)
Rasional : posisi miring mencegah
penekanan pada vena cava.
- Berikan masage pada perut dan penekanan
pada punggung
Rasional : memberi dukungan mental.
4. Libatkan suami dan
keluarga
Rasional : memberi dukungan mental
d. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan
dengan keadaan yang dialami
- Tujuan : klien tidak cemas dan dapat
mengerti tentang keadaannya.
- Kriteria hasil : penderita tidak cemas,
penderita tenang, klie tidak gelisah.
- Intervensi
1. Anjurkan klilen untuk
mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.
Rasional : dengan mengungkapkan
perasaannyaaka mengurangi beban pikiran.
2. Ajak klien mendengarkan
denyut jantung janin
Rasional : mengurangi kecemasan klien
tentag kondisi janin.
3. Beri penjelasan tentang
kondisi janin
Rasional : mengurangi kecemasan tentang
kondisi / keadaan janin.
4. Beri informasi tentang
kondisi klien
Rasional : mengembalikan kepercayaan dan
klien.
5. Anjurkan untuk
manghadirkan orang-orang terdekat
Rasional : dapat memberi rasa aman dan
nyaman bagi klien
6. Anjurkan klien untuk
berdo’a kepada tuhan
Rasional : dapat meningkatkan keyakinan
kepada Tuhan tentang kondisi yang dilami.
7. Menjelaskan tujuan dan tindakan yang
akan diberikan
Rasional : penderita kooperatif.
e. Potensial terjadinya hypovolemik syok
berhubungan dengan perdarahan
- Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi
- Kriteria hasil : * Perdarahan berkurang
* Tanda-tanda vital normal
* Kesadaran kompos metit
- Intervensi
1. Kaji perdarahan setiap
15 – 30 menit
Rasional : mengetahui adanya gejala syok
sedini mungkin.
2. monitor tekanan darah,
nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi dilakukan setiap 30
menit.
Rasional : mengetahui keadaan pasien
3. Awasi adanya tanda-tanda
syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala pusing.
Rasional : menentkan intervensi
selanjutnya dan mencegah syok sedini mungkin
4. Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundur uteri.
Rasional : mengetahui perdarahan yang
tersembunyi
5. Catat intake dan output
Rasional : produksi urine yang kurang dari
30 ml/jam merupakan penurunan fungsi ginjal.
6. Berikan cairan sesuai dengan program terapi
Rasional : mempertahanka volume cairan
sehingga sirkulasi bisa adekuat dan sebagian persiapan bila diperlukan
transfusi darah.
7. Pemeriksaan laboratorium
hematkrit dan hemoglobin
Rasional : menentukan intervensi
selanjutnya
f. Kurangnya pengetahuan klien tentang
keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi
- Tujuan : penderita dapat mengerti
tentang penyakitnya.
- Kriteria hasil : dapat menjelaskan
hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.
- Intervensi
1. Kaji tingkat pengetahuan
penderita tentang keadaanya
Rasional : menentukan intervensi
keperawatan selanjutnya.
2. Berikan penjelasan
tentang kehamilan dan tindakan yang akan dilakukan.
a. Pengetahua tentang perdarahan antepartum.
b. Penyebab
c. Tanda dan gejala
d. Akibat perdarahan
terhadap ibu dan janin
e. Tindakan yang mungkin
dilakukan
Rasional : penderita mengerti dan menerima
keadaannya serta pederita menjadi kooperatif.
BAB 4
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta /
ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya
di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum
janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan
pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari
implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan
yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih
berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu
perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding
dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang
menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya
karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah
keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam
keadaan syok.
Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan
pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit
hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor
lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah
tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.
Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam,
sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio
plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian
terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi
uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal
tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.
DAFTAR PUSTAKA
MANSJOER ARIF DKK . 2001.KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. EDISI 3 JILID 1.FK UI .
JAKARTA
Langganan:
Komentar (Atom)
