SOLUSIO PLASENTA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta /
ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya
di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum
janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan
pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari
implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan
yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih
berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu
perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding
dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang
menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya
karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah
keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam
keadaan syok.
Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan
pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit
hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor
lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah
tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.
Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam,
sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio
plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian
terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi
uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal
tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.
Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang
relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang
pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami
kekambuhan pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung
menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.
1.2 Batasan Masalah
Makalah yang kami buat ini dibatasi pada
hal-hal yang mngenai solusio plasenta. Tentang definisi solusio plasenta,
etiologi, patofisiologi, klasifikasi solusio plasenta, manifestasi klinis,
pemeriksaan penunjang, komplikasi, prognosis, asuhan keperawatan pada solusio
plasenta.
1.3 RUMUSAN MASALAH
a. Apa definisi solusio plasenta ?
b. Apa etiologi solusio plasenta?
c. Bagaimana patofisiologi dari solusio
plasenta ?
d. Apa saja klasifikasi dari solusio
plasenta ?
f. Apa saja manifestasi klinis dari
solusio plasenta ?
g. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk
pasien dengan solusio plasenta ?
h. Apa saja klasifikasi dari solusio
plasenta ?
i. Apa prognosis dari solusio plasenta ?
j. Bagaimana asuhan keperawatan pada
pasien dengan solusio plasenta ?
1.4 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi solusio
plasenta.
2. Untuk mengetahui etiologi dari solusio
plasenta.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dan solusio
plasenta.
4. Untuk mengetahui kalsifikasi dari
solusio plasenta.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis
dari solusio plasenta.
6. Untuk mengetahui pemeriksaan pemnunjang
untuk solusio plasenta.
7. Untuk mengetahui komplikasi dari
solusio plasenta.
8. Untuk mengetahui prognosis dari solusio
plasenta.
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan
pada pasien dengan solusio plasenta.
1.5 Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu
memberikan sidikit informasi kepada mahasiswa tentang solusio plasenta sampai
asuhan keperawatan pasien dengan solusio plasenta.
BAB 2
ISI
2.1 Definisi
Solusio plasenta adalah terlepasnya
plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum janin lahir, dengan
masa kehamilan 22 minggu / berat janin di atas 500 gr.
2.2 Etiologi
Etiologi dari solusio belum diketahui
secara pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik, trauma
eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol,
penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua.
2.3 Patofisiologi
Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh
perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan
lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual
yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang
berdekatan dengan bagian tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua
menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh
darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena
uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi
optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir
keluar dapat melepaskan selaput ketuban.
Pohon masalah
Trauma
↓
Perdarahan ke dalam desidualbasalis
↓
Terbelah & meninggal lapisan tipis
pada miometrium
↓
Terbentuk hematoma desidual
↓
Penghancuran plasenta
↓
Ruptur pembuluh arteri spinalis desidua
↓
Hematoma retroplasenta
↓
Pelepasan plasenta lebih banyak
Uterus tidak mampu berkontraksi optimal
↓
Darah mengalir keluar dapat melepaskan
selaput ketuban
↓
Syok hipovolemik
2.4 Klasifikasi
2.4.1 Menurut derajat lepasnya plasenta
2.4.1.1 Solusio plasenta partsialis
Bila hanya sebagaian plasenta terlepas
dari tepat pelekatnya.
2.4.1.2 Solusio plasenta totalis
Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari
tempat pelekatnya.
2.4.1.3 Prolapsus plasenta
Bila plasenta turun kebawah dan dapat
teraba pada pemeriksaan dalam.
2.4.2 Menurut derajat solusio plasenta
dibagi menjadi :
2.4.2.1 Solusio plasenta ringan
Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya
sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan
pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agk sakit atau terus
menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.
2.4.2.2 Solusio plasenta sedang
Plasenta telah terlepas lebih dari
seperempat tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala
sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.
2.4.2.3 Solusio plasenta berat
Plasenta telah lepas dari dua pertiga
permukaan disertai penderita shock.
2.5 Manifestasi Klinis
2.5.1 Anamnesis
Perdarahan biasanya pada trimester ketiga,
perdarahan pervaginan berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa
rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang perdarahan
pervaginan yang banyak, syok dan kematian janin intra uterin.
2.5.2 Pemeriksaan fisik
Tanda vital dapat normal sampai
menunjukkan tanda syok.
2.5.3 Pemeriksaan obstetri
Nyeritekan uterus dan tegang,
bagian-bagian janin yang sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai /
tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.
2.6 Pemeriksaan Penunjang
2.6.1 Pemeriksaan laboratorium darah :
hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu protombin, waktu pembekuan, waktu
tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan elektrolit plasma.
2.6.2 Cardiotokografi untuk menilai
kesejahteraan janin.
2.6.3 USG untuk menilai letak plasenta,
usia gestasi dan keadaan janin.
2.7 Komplikasi
2.7.1 Langsung (immediate)
2.7.1.1 perdarahan
2.7.1.2 infeksi
2.7.1.3 emboli dan syok abtetric.
2.7.2 Tidak langsung (delayed)
2.7.2.1 couvelair uterus, sehinga
kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan post partum.
2.7.2.2 hipofibrinogenamia dengan
perdarahan post partum.
2.7.2.3 nikrosis korteks neralis,
menyebabkan anuria dan uremia
2.7.2.4 kerusakan-kerusakan organ seperti
hati, hipofisis.
2.7.3 Tergantung luas plasenta yang
terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Komplikasi pada ibu ialah
perdarahan, koalugopati konsumtif (kadar fibrinogen kurang dari 150 mg % dan
produk degradasi fibrin meningkat), oliguria, gagal ginjal, gawat janin,
kelemahan janin dan apopleksia utero plasenta (uterus couvelar). Bila janin
dapat diselamatkan, dapat terjadi komplikasi asfiksia, berat badan lahir rendah
da sindrom gagal nafas.
2.8 Penatalaksanaan
2.8.1 Harus dilakukan di rumah sakit
dengan fasilitas operasi .
2.8.2 Sebelum dirujuk , anjurkan pasien
untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri , tidak melakukan senggama ,
menghindari eningkatan tekanan rongga perut .
2.8.3 Pasang infus cairan Nacl fisiologi .
Bila tidak memungkinkan . berikan cairan peroral .
2.8.4 Pantau tekanan darah & frekuensi
nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi / syk akibat perdarahan .
pantau pula BJJ & pergerakan janin .
2.8.5 Bila terdapat renjatan , segera
lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak teratasi , upayakan
penyelamatan optimal . bila teratsi perhatikan keadaan janin .
2.8.6 Setelah renjatan diatasi
pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam
diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat diatasi ,
upayakan tindakan penyelamatan optimal .
2.8.7 Setelah syk teratasi dan janin mati
, lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan ketuban lalu infus oksitosin
. bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea .
2.8.8 Bila tidak terdapat renjatan dan
usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr
. penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :
a) Solusi plasenta ringan .
· Ekspektatif , bila ada perbaikan (
perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada , janin hidup ) dengan tirah
baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu persalinan spontan .
· Aktif
, bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi ,
dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi /
infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang
dari 5 / ersalinan masih lama , lakukan seksi sesarea .
b) Slusio plasenta sedang /
berat .
· Resusitasi cairan .
· Atasi anemia dengan pemberian tranfusi
darah .
· Partus
pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila
tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin
2.500 gr / lebih , pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam
diperkirakan berlangsung lama .
2.9 Prognosis
2.9.1 Terhadap ibu
Mortalitas ibu 5 – 10 % hal ini karena
adanya perdarahan sebelum dan sesudah partus.
2.9.2 Terhadap anak
Mortalitas anak tinggi mencapai 70 – 80 %
hal ini tergantung derajat pelepasan dari plasenta.
2.9.3 Terhadap kehamilan berikutnya
Biasanya bila telah menderita penyakit
vaskuler dengan solusio plasenta, maka kehamilan berikutnya sering terjadi
solusio plasenta yang lebih hebat.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
SOLUSIO PLACENTA
3.1 Pengkajian
a. Biodata
Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan
solusio plasenta antara lain
à Nama
Nama dikaji karena nama digunakan untuk
mengenal dan merupakan identitas untuk membedakan dengan pasien lain dan
menghindari kemungkinan tertukar nama dan diagnosa penyakitnya.
à Jenis kelamin
Pada solusio plasenta diderita oleh wanita
yang sudah menikah dan mengalami kehamilan.
à Umur
Solusio plasenta cenderung terjadi pada
usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi penurunan kontraksi akibat
menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa menopause.
à Pendidikan
Solusio plasenta terjadi pada golongan
pendidikan rendah karena mereka tidak mengetahui cara perawatan kehamilan dan
penyebab gangguan kehamilan.
à Alamat
Solusio plasenta terjadi di lingkungan
yang jauh dan pelayanan kesehatan, karena mereka tidak pernah dapat pelayanan
kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.
à Riwayat persalinan
Riwayat persalinan pada solusio plasenta
biasanya pernah mengalami pelepasan plasenta.
à Status perkawinan
Dengan status perkawinan apakah pasien
mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada
hubungannya dengan kehamilan.
à Agama
Untuk mengetahui gambaran dan spiritual
pasien sebagai memudahkan dalam memberikan bimbingan kegamaan.
à Nama suami
Agar diketahui siapa yang bertanggung
jawab dalam pembiayaan dan memberi persetujuan dalam perawatan.
à Pekerjaan
Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien
dalam pembinaan selama istrinya dirawat.
b. Keluhan utama
o Pasien mengatakan perdarahan yang disertai
nyeri
o Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan
karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta,
sehingga rahim tegang.
o Perdarahan yang berulang-ulang.
c. Riwayat penyakit sekarang
Darah terlihat merah kehitaman karena
membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus.
Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah
mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma,
uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.
d. Riwayat penyakit masa lalu
Kemungkinan pasien pernah menderita
penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim
feulidli.
e. Riwayat psikologis
Pasien cemas karena mengalami perdarahan
disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.
f. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum
o Kesadaran : composmetis s/d coma
o Postur tubuh : biasanya gemuk
o Cara berjalan : biasanya lambat dan
tergesa-gesa
o Raut wajah : biasanya pucat
2. Tanda-tanda vital
o Tensi : normal sampai turun (syok)
(<>
o Nadi : normal sampai meningkat (>
90x/menit)
o Suhu : normal / meningkat (> 37o
c)
o RR : normal / meningkat (> 24x/menit)
g. Pemeriksaan cepalo caudal
1. Kepala : kulit kepala biasanya normal /
tidak mudah mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.
Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada
cloasma
Hidung : biasanya ada pernafasan cuping
hidung
Mata : conjunctiva anemis
2. Dada : bentuk dada normal, RR
meningkat, nafas cepat da dangkal, hiperpegmentasi aerola.
3. Abdomen
o Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat
etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra
o Palpasi rahim keras, fundus uteri naik
o Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak
terdengar gerakan janin.
4. Genetalia
Hiperpregmentasi pada vagina, vagina
berdarah / keluar darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua paha
/ femur.
5. ekstimitas
Akral dingin, tonus otot menurun.
6. pemeriksaan penunjang
o Darah : Hb, hemotokrit, trombosit,
fibrinogen, elektrolit.
o USG untuk mengetahui letak plasenta,usia
gestasi, keadaan janin.
2. Daftar Diagnosa Keperawatan
a) Gangguan perfusi jaringan berhubungan
dengan perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis , acral dingin , Hb turun
, muka pucat & lemas .
b) Resiko tinggi terjadinya letal distress
berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang .
c) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus , nyeri
tekan uterus .
d) Gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan
dengan keadaan yang dialami .
e) Potensial terjadinya hypovolemik syok
berhubungan dengan perdarahan .
f) Kurang pengetahuan klien tentang keadaan
patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi .
3. Intervensi Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan berhubungan
dengan perdarahan ditandai dengan conjunctiva anemis, acrar dingin, Hb turun,
muka pucat, lemas.
- Tujuan : suplai / kebutuhan darah
kejaringan terpenuhi
- Kriteria hasil
Conjunctiva tida anemis, acral hangat, Hb
normal muka tidak pucat, tida lemas.
- Intervensi
1. Bina hubungan saling percaya dengan
pasien
Rasional : pasien percaya tindakan yang
dilakukan
2. Jelaskan penyebab terjadi perdarahan
Rasional : pasien paham tentang kondisi
yang dialami
3. Monitor tanda-tanda vital
Rasional : tensi, nadiyang rendah, RR dan
suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah.
4. Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30
menit
Rasional : mengantisipasi terjadinya syok
5. Catat intake dan output
Rasional : produsi urin yang kurang dari
30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi ginjal.
6. Kolaborasi pemberian cairan infus
isotonik
Rasional : cairan infus isotonik dapat
mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan.
7. Kolaborasi pemberian tranfusi darah
bila Hb rendah
Rasional : tranfusi darah mengganti
komponen darah yang hilang akibat perdarahan.
b. Resiko tinggi terjadinya fetal distres
berhubungan dengan perfusi darah ke placenta berkurang.
- Tujuan : tidak terjadi fetal distress
- Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar,
bisa berkoordinasi, adanya pergerakan bayi, bayi lahir selamat.
- Intervensi
1. Jelaskan resiko
terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu
Rasional : kooperatif pada tindakan
2. Hindari tidur terlentang
dan anjurkan tidur ke posisi kiri
Rasional : tekanan uterus pada vena cava
aliran darah kejantung menurun sehingga terjadi perfusi jaringan.
3. Observasi tekanan darah dan nadi klien
Rasional : penurunan dan peningkatan
denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava sehingga klien harus di monitor
secara teliti.
4. Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin
Rasional : penurunan frekuensi plasenta
mengurangi kadar oksigen dalam janin sehingga menyebabkan perubahan frekuensi
jantung janin.
5. Berikan O2 10
– 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress
Rasional : meningkat oksigen pada janin
c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan kontraksi uteres ditandai terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus.
- Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan
nyeri
- Kriteria hasil :
* Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi
nyeri.
* Klien kooperatif dengan tindakan yang
dilakukan.
- Intervensi
1. Jelaskan penyebab nyeri
pada klien
Rasional : dengan mengetahui penyebab
nyeri, klien kooperatif terhadap tindakan
2. Kaji tingkat
Rasional : menentukan tindakan keperawatan
selanjutnya.
3. Bantu dan ajarkan
tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.
- Tarik nafas panjang (dalam) melalui hidung
dan meng-hembuskan pelan-pelan melalui mulut.
Rasional : dapat mengalihkan perhatian
klien pada nyeri yang dirasakan.
- Memberikan posisi yang nyaman (miring
kekiri / kanan)
Rasional : posisi miring mencegah
penekanan pada vena cava.
- Berikan masage pada perut dan penekanan
pada punggung
Rasional : memberi dukungan mental.
4. Libatkan suami dan
keluarga
Rasional : memberi dukungan mental
d. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan
dengan keadaan yang dialami
- Tujuan : klien tidak cemas dan dapat
mengerti tentang keadaannya.
- Kriteria hasil : penderita tidak cemas,
penderita tenang, klie tidak gelisah.
- Intervensi
1. Anjurkan klilen untuk
mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.
Rasional : dengan mengungkapkan
perasaannyaaka mengurangi beban pikiran.
2. Ajak klien mendengarkan
denyut jantung janin
Rasional : mengurangi kecemasan klien
tentag kondisi janin.
3. Beri penjelasan tentang
kondisi janin
Rasional : mengurangi kecemasan tentang
kondisi / keadaan janin.
4. Beri informasi tentang
kondisi klien
Rasional : mengembalikan kepercayaan dan
klien.
5. Anjurkan untuk
manghadirkan orang-orang terdekat
Rasional : dapat memberi rasa aman dan
nyaman bagi klien
6. Anjurkan klien untuk
berdo’a kepada tuhan
Rasional : dapat meningkatkan keyakinan
kepada Tuhan tentang kondisi yang dilami.
7. Menjelaskan tujuan dan tindakan yang
akan diberikan
Rasional : penderita kooperatif.
e. Potensial terjadinya hypovolemik syok
berhubungan dengan perdarahan
- Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi
- Kriteria hasil : * Perdarahan berkurang
* Tanda-tanda vital normal
* Kesadaran kompos metit
- Intervensi
1. Kaji perdarahan setiap
15 – 30 menit
Rasional : mengetahui adanya gejala syok
sedini mungkin.
2. monitor tekanan darah,
nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi dilakukan setiap 30
menit.
Rasional : mengetahui keadaan pasien
3. Awasi adanya tanda-tanda
syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala pusing.
Rasional : menentkan intervensi
selanjutnya dan mencegah syok sedini mungkin
4. Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundur uteri.
Rasional : mengetahui perdarahan yang
tersembunyi
5. Catat intake dan output
Rasional : produksi urine yang kurang dari
30 ml/jam merupakan penurunan fungsi ginjal.
6. Berikan cairan sesuai dengan program terapi
Rasional : mempertahanka volume cairan
sehingga sirkulasi bisa adekuat dan sebagian persiapan bila diperlukan
transfusi darah.
7. Pemeriksaan laboratorium
hematkrit dan hemoglobin
Rasional : menentukan intervensi
selanjutnya
f. Kurangnya pengetahuan klien tentang
keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi
- Tujuan : penderita dapat mengerti
tentang penyakitnya.
- Kriteria hasil : dapat menjelaskan
hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.
- Intervensi
1. Kaji tingkat pengetahuan
penderita tentang keadaanya
Rasional : menentukan intervensi
keperawatan selanjutnya.
2. Berikan penjelasan
tentang kehamilan dan tindakan yang akan dilakukan.
a. Pengetahua tentang perdarahan antepartum.
b. Penyebab
c. Tanda dan gejala
d. Akibat perdarahan
terhadap ibu dan janin
e. Tindakan yang mungkin
dilakukan
Rasional : penderita mengerti dan menerima
keadaannya serta pederita menjadi kooperatif.
BAB 4
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta /
ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya
di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum
janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan
pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari
implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan
yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih
berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu
perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding
dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang
menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya
karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah
keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam
keadaan syok.
Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan
pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit
hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor
lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah
tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.
Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam,
sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio
plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian
terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi
uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal
tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.
DAFTAR PUSTAKA
MANSJOER ARIF DKK . 2001.KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. EDISI 3 JILID 1.FK UI .
JAKARTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar